Komunitas Beranda Literasi Menggelar ‘NGOPI’

Metro – Komunitas Beranda Literasi yang diinisiasi oleh pegiat literasi Kota Metro berhasil nenggelar even pertama di awal tahun 2020. Even NGOPI atau Ngobrol Seputar Literasi ini digelar di selasar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusarda) ‘Literasi dan Kota Kreatif’, Jumat 10 Januari 2020.

Even yang terbuka untuk umum ini menghadirkan Bappeda, Disdikbud Metro, Disporapar, Disdikbud, DKM, Pengrajin, Pemerhati Kota, Penulis dan Komunitas Kota Metro.

Rahmatul Ummah, ketika memoderatori kegiatan ini mengatakan, ini adalah kegiatan yang pertama dan diharapkan akan menjadi rutinitas komunitas Beranda Literasi Metro.

Seluruh peserta yang hadir menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Berbagai ide dan gagasan, muncul untuk tema Literasi dan Kota Kreatif.

Dwi pegiat kreatif dari Studio Djajan Metro (SDM) mengatakan, perlunya ada komunikasi yang lebih intens antara Pemerintah Kota Metro, dengan komunitas-komunitas di Kota Metro.

Aditya Wardani, selaku grafis desainer dalam diskusi ini juga mengkritik berbagai landmark yang ada di Kota Metro, yang menurutnya perencanaannya tak matang.

“Hal-hal sepele, seperti warna itu tidak direncanakan dengan matang. Untuk bentuk juga tidak direncanakan dengan matang, saat ini anak muda suka berfoto dengan instagram namun kenyataannya, bentuk yang dibutuhkan tidak sesuai dengan landmark yang ada,” kata Aditya Wardani, yang juga pemenang desain logo Bawaslu RI.

Muadin selaku Ketua Dewan Kesenian Metro (DKM) meminta, Bappeda serius dalam melakukan perencanaan.

“Dalam mencari data jangan melulu teritorial oriented, tetapi harus melibatkan sektorial oriented atau public hearing,” katanya.

Menurutnya, sudah saatnya Metro menjadi pusat pengembangan industri kreatif. Ada upaya-upaya mengintegrasikan kesalahan-kesalahan dan termasuk melibatkan kegiatan literasi. “Kalau tidak dikembangkan secara terintegrasi maka akan begitu-begitu saja. Bahwa perlu mendorong integrasi gerakan,” katanya.

Wisnu staff pengajar DKV Itera, dalam diskusi itu menjelaskan, bahwa komunitas juga harus sering komunikasi dengan pemerintah, sehingga terjadi sinergi.

Oki Hajiansah Wahab, pegiat literasi yang merupakan salah satu narasumber mengatakan, saat ini visi pemimpin selalu berubah ketika berganti pemimpin Kota Metro.

“Membuka diri menjadi kunci, kenapa kota-kota lain maju. Melibatkan berbagai unsur, mendorong skpd lebih terbuka melibatkan masyarakat itu. Bukan komunitas datang ke dinas dinas menawarkan pekerjaan itu tidak layak, tetapi seharusnya SKPD membuka diri terhadap orang-orang dari luar,” katanya.

Putu Ganepo, mewakili Kepala Disporapar Metro menjabarkan, untuk pariwisata di Kota Metro sudah dibentuk kelompok sadar wisata di tiap-tiap kecamatan.

“Sudah dibuat kelompok sadar wisata atau Pokdarwis untuk bidang pariwisata. Terkait kepemudaan ada Muli Meghanai, di olahraga juga kita ada Walikota CUP,” kata Putu Ganepo.

Kepala Dispusarda Metro, M. Syachri Ramadhan dalam memberikan closing statemen diskusi ini mengajak stake holder untuk menangkap ide atau gagasan masyarakat lalu mengimplementasikannya.

“Kemudian, masyarakat memberikan ide atau gagasan, melalui pemerintah ide ditangkap terus implementasinya kalau bisa masyarakat inilah. Mudah-mudahan kawan-kawan pemerintah bisa melaksanakan ini, bisa mengimplementasikan yang penting sesuai dengan aturan yang ada,” tuntasnya. (yusuf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *