Komunitas Menggagas #Jukpaibukumeu, Perpustakaan Matangkan Persiapan Hari Kunjung

METROPelibatan komunitas dalam acara Hari Kunjung Perpustakaan (HKP) telah dimulai sejak tahun 2017. Saat itu, meski dengan dana minim kegiatan hari kunjung perpustakaan yang diselenggarakan di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusarda) Kota Metro berjalan sukses dan semarak, ada puluhan lapak baca yang tertata rapi di kiri kanan jalan sepanjang 100 meter, yang dikemas sebagai lorong baca.

Bukan hanya itu, hampir semua kegiatan untuk memperingati hari kunjung perpustakaan setiap bulan September tersebut, diisi oleh warga dan pegiat komunitas. Tersebut beberapa di antara mereka berasal dari pegiat seni lukis, musik, mural, pegiat literasi, pegiat fotografi, dosen, desainer hingga youtuber.

Gelaran HKP 2019 lebih semarak lagi, melibatkan lebih banyak orang dan komunitas.

“Semangat gotong-royong itu masih ada dan dirawat baik oleh warga kota ini,” jelas Dharma Setyawan, dosen IAIN Metro yang juga aktivis yang fokus memberdayakan warga lewat gerakan Ayo Ke Dam Raman dan Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi), pada saat rapat persiapan HKP 2019 di kantor Perputakaan Metro (Sabtu, 13 Juli 2019).

Syachri Ramadhan, Kepala Dispusarda mengaku senang dan bangga dengan antusiasme komunitas di Kota Metro, yang mau terlibat di setiap gelaran hari kunjung perpustakaan.

“Tentu saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan yang mau mendukung dan terlibat dalam setiap gelaran hari kunjung. Tanpa kawan-kawan, tak mungkin gelaran HKP bisa semarak dan meriah, terlebih dengan budget yang pas-pasan,” jelas Syachri.

Dalam rangka mempersiapkan gelaran HKP 2019, Syachri Ramadhan mengundang secara terbuka, lebih banyak lagi warga komunitas untuk bergabung. Menurutnya, semakin banyak yang terlibat, bukan hanya akan menjadikan momen HKP lebih meriah dan ramai, melainkan juga menunjukkan tingkat kesadaran warga yang semakin tinggi, bahwa kemajuan kota adalah tanggungjawab bersama.

Oki Hajiansyah Wahab, doktor muda yang kini menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMK), Lampung Utara turut menyumbang gagasan agar tidak terkesan hanya sebagai event organizer (EO), komunitas harus mengambil tanggung jawab pada setiap agenda kegiatan HKP 2019.

“Selain mengambil peran sebagai penanggung jawab pada beberapa acara, kita juga baiknya menyerukan setiap warga untuk menyumbang buku, one man one book, buku yang nantinya terkumpul bisa didistribusikan kembali ke masyarakat lewat taman baca atau rumah-rumah pintar yang ada di setiap kelurahan,” terang Oki.

Ide dan usulan Oki ini disambut baik oleh dinas perpustakaan dan komunitas lain, sehingga akhirnya melahirkan kesepakatan untuk kampanye gerakan satu orang satu buku lewat media sosial dengan tanda pagar jukpaibukumeu (#Jukpaibukumeu).

Dimas owner Bejo’s Milk, yang sekaligus mewakili Komunitas Baur, memberikan respon positif, bahkan menyiapkan Bejo’s sebagai terminal, menjadi tempat bagi warga yang ingin menyumbangkan bukunya, sebelum nanti diserahkan ke dinas perpustakaan.

“Baiknya, kita memang menyiapkan pos-pos strategis penerimaan buku dari warga, selain kantor dinas perpustakaan. Semakin banyak tempat, semakin baik. Dan yang memungkinkan, cukup terjangkau adalah cafe-cafe dan tempat nongkrong, seperti Bejo’s, Cafe Mama, Mahel Photography, atau tempat-tempat lain sesuai usulan dan kesediaan. Bejo’s Milk siap!” tegas Dimas, Selasa malam (16/7/2019).

Selain mengampanyekan gerakan #jukpaibukumeu, warga komunitas yang terlibat juga membuat fundraising dengan menjual kaos yang didesain khusus oleh komunitas, dan seluruh keuntungannya akan digunakan untuk membeli buku.

Dari notulensi rapat persiapan HKP 2019 (Sabtu, 13/7/2019), terekam setidaknya beberapa kegiatan yang akan digelar, selain lorong 100 meter untuk lapak baca dan lomba-lomba yang memang telah rutin dilaksanakan di HKP 2017 dan 2018, ada beberapa gelaran yang sama sekali baru, seperti talkshow yang akan disiarkan langsung lewat radio dan media sosial.

“Thalkshow ini akan diisi oleh anak-anak muda Metro yang inspiratif, baik mereka yang bekerja sebagai musisi, pegiat literasi, komunitas mural, desain dan lain-lain. Mereka akan berbagi ide dan bercerita soal proses kreatif yang selama ini mereka jalankan, sehingga bisa menginspirasi warga kota,” tukas Ahmad Gufron alias Empong, pegiat media sosial. (VIP/RU)

781 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *