Esai untuk Umko:

“Suluh Kearifan”

Hari senin tanggal 22 Juli 2019 menjadi hari yang bersejarah bagi dunia pendidikan Kabupaten Lampung Utara, dan terkhusus bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah karena pada hari itu telah lahir sebuah universitas yakni Universitas Muhammadiyah Kotabumi (Umko). Umko ini lahir dibidani oleh 2 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang telah lama berdiri di Kotabumi yaitu STIH Muhammadiyah Kotabumi dan STKIP Muhammadiyah Kotabumi. Berdirinya Umko ini merupakan perwujudan visi pendidikan yang telah sekian lama diperjuangkan oleh 2 PTM tersebut. Tentunya ini akan menjadi fase baru bagi perkembangan salah satu amal usaha Muhammadiyah ini.

Menyambut berdirinya Umko, Oki Hajiansah Wahab, dosen Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial (FHS) menyebut Umko sebagai “Obor dari Utara”. Penyebutan “utara” tersebut sepertinya dimaksudkan untuk menunjuk posisi geografis Umko yang berada pada bagian utara dari Provinsi Lampung.

Ada gelora semangat maju dan siap berkompetisi dalam sebutan “Obor dari Utara (OdU)” itu. Gelora yang memang sudah semestinya selalu berkobar dalam dada semua pengelola PTM sebagai perwujudan dari semangat “Berkemajuan” warga persyarikatan.

Sebuah perguruan tinggi dibebani tanggung jawab untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi. Bagi PTM ditambah 1 darma lagi menjadi Catur Darma. Perguruan tinggi, selain menyelenggarakan pendidikan, diwajibkan juga untuk melaksanakan penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Bentuk pengabdian pada masyarakat yang dilakukan STIH, sebelum berubah menjadi FHS adalah penyuluhan hukum. Penyuluhan kata dasarnya adalah “suluh”, yang artinya sama dengan obor. Suluh atau obor gunanya untuk memberi penerangan. Jadi, penyuluhan hukum itu dilakukan untuk memberi penerangan tentang hukum kepada masyarakat.

Lazim dalam penyuluhan hukum STIH dilaksanakan di desa-desa yang jauh dari Kotabumi sebagai ibukota kabupaten. Lokasi penyuluhan jauh di pelosok-pelosok yang masih sulit akses transportasinya, karena jalan belum tersentuh aspal. Deda-desa yang belum banyak mendapatkan bagian dari manfaat pembangunan, baik pembangunan fisik maupun non fisik.

Menarik ketika pelaksanaan penyuluhan, dalam diskusi dengan masyarakat desa disampaikan nilai-nilai yang selama ini dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari mereka untuk mengatasi semua permasalahan yang timbul di masyarakat. Nilai-nilai yang dikenal dalam ilmu hukum sebagai hukum adat. Hal tersebut menunjukkan bahwa eksistensi hukum adat di Lampung Utara masih tetap terjaga.

Topik menarik terkait hukum adat adalah apa yang disebut dengan kearifan lokal. Secara istilah, saat ini sepertinya istilah kearifan lokal lebih populer dibanding dengan hukum adat. Kedua istilah memang memiliki cakupan yang berbeda. Dari beberapa bahasan tentang kearifan lokal, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian kearifan lokal lebih luas dibanding hukum adat. Bisa dikatakan bahwa hukum adat merupakan salah satu bentuk kearifan lokal.

Pentingnya kearifan lokal karena dipercaya bahwa banyak permasalahan masyarakat modern yang tidak mendapatkan solusi pemecahannya, namun bisa diatasi dengan menggunakan kearifan lokal. Karena itu, berbagai kajian dilakukan untuk mengangkat kearifan lokal. Berbagai isu modern banyak diusahakan penanganannya melalui kearifan lokal. Bukti pengakuan masyarakat modern bahwa masyarakat tradisional telah memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan yang berhasil membantu mereka mengatasi persoalan hidupnya.

Mengingat hal itu, dan termotivasi dengan OdU yang telah dinyalakan oleh Mas Oki, saya tertarik untuk menghidupkan “Suluh Kearifan”. Untuk memudahkan penyebutan, digunakan akronim “Suar” yang juga mempunyai makna penerang. Suluh kearifan dimaksudkan sebagai sebuah proses dan juga sebuah hasil. Dalam bahasa, maka menjadi kata kerja dan kata sifat. Sebagai proses, Suar adalah menyuluh, yaitu mencari kearifan. Sedangkan sebagai hasil, Suar diartikan sebagai penerangan mengenai kearifan.

Suar dalam prosesnya adalah penelitian yang dilakukan untuk mencari, mengetahui, menemukan kearifan-kearifan yang masih tersimpan dalam kandungan pergaulan masyarakat. Masyarakat Lampung Utara yang masih memelihara ciri sebagai masyarakat adat, menyimpan kekayaan kearifan yang luar biasa, yang harus digali. Sebagaimana pernah dilakukan penelitian oleh Pak Slamet Haryadi tentang pelembagaan peran perempuan marga Nunyai, dan penelitian saya sendiri tentang peran tokoh adat dalam penyelesaian sengketa tanah, perlu dilakulan penelitian yang lebih banyak lagi.

Penelitian yang dilakukan perguruan tinggi haruslah memiliki dampak nyata baik bagi kalangan internal maupun untuk eksternal. Bagi internal, penelitian yang dilakukan seyogyakan menghasilkan peningkatan kompetensi. Outputnya bahan pembelajaran. Sehingga akan tercipta pembelajaran berbasis riset. Penelitian juga harus memberikan kontribusi bagi eksternal, pada tataran praktis untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Kehadiran sebuah perguruan tinggi haruslah memberikan manfaat bagi peradaban masyarakat sekitar. Untuk itu kegiatan pengabdian pada masyarakat harus berjalan dengan baik dan optimal. Suar bisa dijadikan indikator keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat. Suar sebagai hasil dimana masyarakat memperoleh penerangan atau pencerahan tentang kearifan-kearifan yang telah menjadi ilmu pengetahuan dari hasil penelitian.

Penyuluhan sebagai salah satu model pengabdian dengan memberikan penerangan kepada masyarakat. Dengan begitu Suar sebagai hasil dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Melalui penyuluhan juga terjadi interaksi langsung dengan masyarakat. Penyuluhan juga bisa menjadi sarana saling berbagi dan saling belajar kearifan. Ada dialog disitu. Ada persinggungan yang akan melahirkan harmoni.

Bergabungnya STIH dan STKIP menjadi Umko, mejadikan peluang untuk memberi manfaat kepada masyarakat lebih besar. Akan lebih banyak ilmu pengetahuan yang bisa dibagi. Akan lebih banyak penelitian yang dihasilkan. Semakin luas ruang pengabdian pada masyarakat. Dengan demikian semakin teranglah cahaya Suar yang dihasilkan.

Universitas janganlah menjadi menara gading. Sebuah tempat ekslusif, yang menyenangkan bagi penghuninya tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Atau tempat menyibukkan diri dan asik studi ilmu-ilmu yang mengawang-awang, tidak membumi. Semestinya universitas menjadi kelas besar yang menjadi tempat pembelajaran bersama dengan masyarakat, yang menghasilkan produk ilmu dan teknologi untuk membangun kemajuan peradaban masyarakat.

Oleh karena itu, Umko haruslah memancarkan Suar ke segala penjuru. Bangunlah menara yang tinggi agar cahaya Suarnya menyinari jauh menjangkau seluruh pelosok. Jadilah Mercusuar. Penerang dan penunjuk arah bagi siapa saja yang berlayar di lautan ilmu.

Oleh: Slamet Riyanto / Dosen FHS UMK

362 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *